Perhatian: Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mencari
masalah, tetapi hanya sekedar curhatan belaka, baik untuk tetangga yang kiri,
maupun tetangga yang kanan. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada pihak-pihak
yang kurang berkenan. Tetapi jika tetangga-tetangga saya membaca ini, mungkin
bisa dijadikan bahan refleksi juga untuk kehidupan bertetangga. Terima kasih.
Tempat saya tinggal dari kecil sampai
sekarang adalah sebuah kompleks yang aman, damai, dan tenteram. Saya sangat
bahagia tinggal di kompleks ini sepanjang hidup saya. Rata-rata tetangganya
baik-baik dan ramah, lingkungan sekitar juga nyaman banget deh! Kenapa saya
sebut rata-rata tetangganya baik-baik dan ramah? Karena ada ajaaaaaa tetangga
yang memang bikin keki!.
Tetangga sebelah rumah saya itu adalah dua orang gadis
berumur di atas 50 tahun. Iya, kenapa saya menyebutnya gadis ? Ngerti sendiri
lah ya. Nah, dua orang gadis ini adalah kakak beradik gitu. Satu aja repot kan
? Apalagi kalo dua? Nah... Silakan dibayangkan sendiri. Tetangga ini adalah
tetangga yang sama dari sejak saya dilahirkan ke dunia sampai sekarang, jadi
saya kenal betul sifat dan bagaimana pergaulan antar tetangganya. Dulu si kakak
beradik ini tinggal bersama ibunya. Setelah ibunya meninggal, jadi tinggal
mereka berdua saja.
Ciri-ciri si tetangga ini adalah, JUDES ABIS. Semua
tetangga-tetangga sekitar rumah yang lain juga suka bilang ke kita kalau
tetangga kita yang satu itu memang seperti tidak mau bergaul. Ya, rada ekslusif
gitu deh. Tiap pagi sih saya suka liat dia jalan ke pasar, plus saya sih masih
manggil walaupun sekedar basa basi saja. Yang saya tau, dari dulu dua gadis ini
tidak pernah cocok sama yang namanya pembantu.
Menurut curhatan para pembantunya ke pembantu saya di masa
lalu sih, katanya para pembantunya ini rajin banget dimarah-marahin, plus dua
nyonyanya itu pelit parah. Sebagai contoh, rumah segitu besar, kalau malam
lampu yang nyala cuma 2 biji dan remang-remang. Namanya gosip antar pembantu,
tentu cepat lah ya nyampenya. Kayaknya gak ada pembantu yang tahan lebih dari
setahun deh sama mereka. Sekarang sih mereka sudah gak pakai pembantu lagi.
Sebetulnya, punya tetangga yang judes, menyebalkan, galak,
itu mah sudah biasa kali ya. Tetapi ketika hal tersebut berhubungan langsung
dengan diri kita, nah itu baru mengganggu. Kejadiannya itu dimulai dari saat
saya merenovasi rumah. Kebetulan rumah saya dirombak total dan dibangun ulang
dari pondasi. Jadi sudah pasti dong ya, banyak tukang dan banyak debu. Nah,
setiap hari, si duo gadis ini menelpon mama saya atau saya, dan berkicau.
Begini lah, begitu lah, komplen sana sini. Nelepon tetangga, isinya cuma
makian, dan ketusnya, alamaakkkk... Padahal beberapa tahun sebelumnya, mereka
juga melakukan hal yang sama alias merenovasi total rumahnya. Malah dahulu
lebih parah, pernah ada balok kayu besar minta ampun mendadak terlempar ke
rumah saya dan hampir menghantam mama saya. Tapi berhubung kita gak pernah
nyari ribut, ya sudah kita diam-diam saja lah.
Nah, kegilaan dua gadis ini bertambah lagi. Gara-gara kita
renovasi rumah, mereka juga gak mau kalah. Kegilaan pertamanya adalah: ikut
meninggikan dinding! Kemudian mereka juga menambah teralis dan pagar besi di
samping rumah, kesannya itu kayak tukang-tukang yang kerja di rumah saya mau
ngemaling di rumah dia. Saking parnonya mereka, setiap malam, mereka yang biasa
pelit, lampunya jadi TERANG BENDERANG!! Ditambah lagi, dia telepon ibu saya,
ngoceh, katanya tukangnya kerja itu gak boleh sama sekali mampir di area rumah
dia. LAH! Namanya kita lagi bikin dinding, sudah pasti ada dua sisi dong? Sudah
gitu saat ada kotor2 sedikit di tembok mereka, merek ribut lagi, minta
kontraktor saya untuk cat tembok SEGERA.
Padahal kontraktor
saya sudah bilang, begitu proyek selesai, bagian tembok dia akan dicat ulang.
Kontraktor saya pun suka ditelepon langsung dan cukup kenyang dimaki, sampai
rasanya si kontraktor lumayan frustasi dan sampai mengadu ke mama saya kalau
dia stress pas bangun rumah saya gara-gara suka dimaki sama di duo gadis. Ya,
sebenarnya sih, dari si duo gadis itu, jubirnya cuma satu aja ya. Tapi menurut
saya sih, kalau yang satunya baik, dia gak akan mendukung saudaranya untuk
melakukan tindakan yang tidak mengenakan. Jadi saya anggap saja mereka
merupakan satu kesatuan.
Ada kejadian belum lama ini, waktu itu adik saya pulang
malam, dan gak tau kenapa, di depan pagar rumah saya ada mobil sehingga adik
saya tidak bisa memasukkan mobilnya. Kemudian di bagian tembok rumah saya juga
ada mobil parkir, jadinya adik saya terpaksa parkir di bagian tembok rumah si
duo gadis, yang notabene TIDAK menghalangi aktivitas si duo gadis keluar masuk
rumah. Saya tuh punya perasaan gak enak, saya bilang ke ibu,"Bu, gawat
nih, jangan2 mereka bakalan marah kalau kita parkir di depan tembok
rumahnya." Ibu saya
bilang, "Gak mungkin lah,
gila apa ? Itu kan mestinya gak jadi masalah, apalagi kita tetangga sama-sama
kenal." Tapi ternyata
dugaan saya terbukti. Pagi-pagi buta, kayaknya sekitar pukul 6.30 pagi deh,
telepon saya berdering2, dan kebetulan ibu yang angkat. Benar saja, kita
dikomplen dengan nada kasar, dan pakai ancaman "awas" kalau berani
parkir lagi. Ibu saya pun akhirnya mengkonfirmasi, kalau duo gadis ini
benar-benar ajaib dan di luar ekspektasi!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar