Selasa, 26 April 2016

Tetangga Kok Begitu?


Perhatian: Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mencari masalah, tetapi hanya sekedar curhatan belaka, baik untuk tetangga yang kiri, maupun tetangga yang kanan. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada pihak-pihak yang kurang berkenan. Tetapi jika tetangga-tetangga saya membaca ini, mungkin bisa dijadikan bahan refleksi juga untuk kehidupan bertetangga. Terima kasih.
Tempat saya tinggal dari kecil sampai sekarang adalah sebuah kompleks yang aman, damai, dan tenteram. Saya sangat bahagia tinggal di kompleks ini sepanjang hidup saya. Rata-rata tetangganya baik-baik dan ramah, lingkungan sekitar juga nyaman banget deh! Kenapa saya sebut rata-rata tetangganya baik-baik dan ramah? Karena ada ajaaaaaa tetangga yang memang bikin keki!.
Tetangga sebelah rumah saya itu adalah dua orang gadis berumur di atas 50 tahun. Iya, kenapa saya menyebutnya gadis ? Ngerti sendiri lah ya. Nah, dua orang gadis ini adalah kakak beradik gitu. Satu aja repot kan ? Apalagi kalo dua? Nah... Silakan dibayangkan sendiri. Tetangga ini adalah tetangga yang sama dari sejak saya dilahirkan ke dunia sampai sekarang, jadi saya kenal betul sifat dan bagaimana pergaulan antar tetangganya. Dulu si kakak beradik ini tinggal bersama ibunya. Setelah ibunya meninggal, jadi tinggal mereka berdua saja.
Ciri-ciri si tetangga ini adalah, JUDES ABIS. Semua tetangga-tetangga sekitar rumah yang lain juga suka bilang ke kita kalau tetangga kita yang satu itu memang seperti tidak mau bergaul. Ya, rada ekslusif gitu deh. Tiap pagi sih saya suka liat dia jalan ke pasar, plus saya sih masih manggil walaupun sekedar basa basi saja. Yang saya tau, dari dulu dua gadis ini tidak pernah cocok sama yang namanya pembantu.
Menurut curhatan para pembantunya ke pembantu saya di masa lalu sih, katanya para pembantunya ini rajin banget dimarah-marahin, plus dua nyonyanya itu pelit parah. Sebagai contoh, rumah segitu besar, kalau malam lampu yang nyala cuma 2 biji dan remang-remang. Namanya gosip antar pembantu, tentu cepat lah ya nyampenya. Kayaknya gak ada pembantu yang tahan lebih dari setahun deh sama mereka. Sekarang sih mereka sudah gak pakai pembantu lagi.
Sebetulnya, punya tetangga yang judes, menyebalkan, galak, itu mah sudah biasa kali ya. Tetapi ketika hal tersebut berhubungan langsung dengan diri kita, nah itu baru mengganggu. Kejadiannya itu dimulai dari saat saya merenovasi rumah. Kebetulan rumah saya dirombak total dan dibangun ulang dari pondasi. Jadi sudah pasti dong ya, banyak tukang dan banyak debu. Nah, setiap hari, si duo gadis ini menelpon mama saya atau saya, dan berkicau. Begini lah, begitu lah, komplen sana sini. Nelepon tetangga, isinya cuma makian, dan ketusnya, alamaakkkk... Padahal beberapa tahun sebelumnya, mereka juga melakukan hal yang sama alias merenovasi total rumahnya. Malah dahulu lebih parah, pernah ada balok kayu besar minta ampun mendadak terlempar ke rumah saya dan hampir menghantam mama saya. Tapi berhubung kita gak pernah nyari ribut, ya sudah kita diam-diam saja lah.
Nah, kegilaan dua gadis ini bertambah lagi. Gara-gara kita renovasi rumah, mereka juga gak mau kalah. Kegilaan pertamanya adalah: ikut meninggikan dinding! Kemudian mereka juga menambah teralis dan pagar besi di samping rumah, kesannya itu kayak tukang-tukang yang kerja di rumah saya mau ngemaling di rumah dia. Saking parnonya mereka, setiap malam, mereka yang biasa pelit, lampunya jadi TERANG BENDERANG!! Ditambah lagi, dia telepon ibu saya, ngoceh, katanya tukangnya kerja itu gak boleh sama sekali mampir di area rumah dia. LAH! Namanya kita lagi bikin dinding, sudah pasti ada dua sisi dong? Sudah gitu saat ada kotor2 sedikit di tembok mereka, merek ribut lagi, minta kontraktor saya untuk cat tembok SEGERA.
 Padahal kontraktor saya sudah bilang, begitu proyek selesai, bagian tembok dia akan dicat ulang. Kontraktor saya pun suka ditelepon langsung dan cukup kenyang dimaki, sampai rasanya si kontraktor lumayan frustasi dan sampai mengadu ke mama saya kalau dia stress pas bangun rumah saya gara-gara suka dimaki sama di duo gadis. Ya, sebenarnya sih, dari si duo gadis itu, jubirnya cuma satu aja ya. Tapi menurut saya sih, kalau yang satunya baik, dia gak akan mendukung saudaranya untuk melakukan tindakan yang tidak mengenakan. Jadi saya anggap saja mereka merupakan satu kesatuan.
Ada kejadian belum lama ini, waktu itu adik saya pulang malam, dan gak tau kenapa, di depan pagar rumah saya ada mobil sehingga adik saya tidak bisa memasukkan mobilnya. Kemudian di bagian tembok rumah saya juga ada mobil parkir, jadinya adik saya terpaksa parkir di bagian tembok rumah si duo gadis, yang notabene TIDAK menghalangi aktivitas si duo gadis keluar masuk rumah. Saya tuh punya perasaan gak enak, saya bilang ke ibu,"Bu, gawat nih, jangan2 mereka bakalan marah kalau kita parkir di depan tembok rumahnya." Ibu saya bilang, "Gak mungkin lah, gila apa ? Itu kan mestinya gak jadi masalah, apalagi kita tetangga sama-sama kenal." Tapi ternyata dugaan saya terbukti. Pagi-pagi buta, kayaknya sekitar pukul 6.30 pagi deh, telepon saya berdering2, dan kebetulan ibu yang angkat. Benar saja, kita dikomplen dengan nada kasar, dan pakai ancaman "awas" kalau berani parkir lagi. Ibu saya pun akhirnya mengkonfirmasi, kalau duo gadis ini benar-benar ajaib dan di luar ekspektasi!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar